Separo jalan telah kita tempuh,
Di antara aroma kurma dan doa yang luruh.
Rembulan mulai sedikit malu merampingkan diri,
Saksi rindu yang kini kian menjadi-jadi.
Di malam ini,
sejarah bukan sekadar angka,
Bukan sekadar dongeng di sela kantuk yang menyapa.
Ada Kalam yang turun membawa cahaya abadi,
Membasuh debu-debu yang mengerak di dalam hati.
Nuzulul Qur’an…
Saat langit memeluk bumi dengan ayat-ayat cinta,
Mengingatkan kita bahwa rindu punya muara.
Bukan pada gemerlap dunia yang fana dan sementara,
Tapi pada setiap huruf yang menenangkan jiwa.
Kita merindu di antara tadarus yang syahdu,
Mencari makna di balik aksara yang terpaku.
Seolah Tuhan sedang berbisik di tengah sunyi:
“Jangan lelah, perjalananmu belum usai di sini.”
Semoga di sisa langkah Ramadhan yang tersisa,
Rindu kita tak hanya berhenti di ujung lidah saja.
Namun menetap dalam laku, tumbuh dalam dada,
Hingga kita kembali fitrah,
bersih tanpa noda.










