Beranda Artikel Mengenal Sejarah Makam Sunan Gunung Jati: Ada Banyak Misteri dan Keunikan Arsitektur

Mengenal Sejarah Makam Sunan Gunung Jati: Ada Banyak Misteri dan Keunikan Arsitektur

13
0

pptialfalah.id – Ziarah dan Rekreasi PPTI Al Falah salah satu tradisi kegiatan dua tahun sekali.

Dalam memperingati Haul KH. M. Zoemri RWS yang ke-11, ziarah makam Sunan Gunung Jati memiliki keontentikan tersendiri dalam belajar sejarah Islam.

Sunan Gunung Jati merupakan salah satu penyiar agama Islam tanah Jawa yang terkenal dengan sebutan Wali Songo.

Makamnya terletak berada daerah Jawa Barat. Tepatnya di Desa Astana, Jl. Alun-alun Ciledug No. 53, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Komplek makam Sunan Gunung Jati di Cirebon merupakan situs ziarah penting yang memadukan sejarah Wali Songo dengan akulturasi arsitektur Jawa, Arab, dan Tionghoa.

Situs ini menawarkan keunikan berupa aturan ketat area makam utama serta ornamen porselen khas Tiongkok.

Sunan Gunung Jati merupakan keturunan dari Raja Kerajaan Sunda Padjajaran, yaitu Prabu Siliwangi.

Beliau merupakan putra dari Nyai Mas Rara Santang, putri dari Prabu Siliwangi dengan Nyai Mas Subang Larang.

Nyai Mas Rara Santang satu-satunya perempuan dari 3 bersaudara, yaitu kakaknya Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang dan adiknya Raden Kian Santang.

Tentang siapa Sunan Gunung Jati sebenarnya masih belum jelas hingga saat ini.

Dalam buku Sejarah Cirebon disebutkan bahwa
Sunan Gunung Jati adalah bukan Fatahillah.

Sedangkan de Graaf berpendapat bahwa Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah sosok yang sama yang memiliki nama lain Tagaril.

Ada yang mengatakan bahwa Sunan Gunung Jati merupakan orang Indnoesia asli, yaitu merupakan putra dari Syarifah Muda’im atau Nyimas Rara Santang

Putri dari Prabu Siliwangi ini menikah dengan penguasa Mesir keturunan ke-22 Nabi Muhammad SAW yang bernama Syarif Abdullah.

Penulis juga akan menjelaskan beberapa sejarah misteri lainnya tentang bangunan arsitektur makam Sunan Gunung Jati yang jarang banyak orang mengetahuinya.

Ornamen Keramik yang Mengelilingi Dinding Makam: Bentuk Kisah Cinta Bersejarah

Banyak orang yang belum tahu bahwa ornamen keramik menyimpan kisah cinta bersejarah

Kisah cinta antara Sunan Gunung Jati dengan Putri Ong Tien, putri dari Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming.

Konon ceritanya, ornamen keramik yang berada pada komplek makam merupakan oleh-oleh yang dari oleh Putri Ong Tien untuk Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung jati yang kala itu dipermalukan dan diusir oleh Kaisar Hong Gie yang akhirnya beliau kembali ke Cirebon.

Kepergian Sunan Gunung Jati membuat Putri Ong Tien rindu dan ingin menyusulnya ke Tanah Jawa.

Pasalnya, Putri Ong Tien sudah jatuh cinta sejak pertama kali bertemu sang Sunan hingga saatnya ia memaksa ayahnya untuk menikahkannya dengan sang Sunan.

Pada akhirnya, Kaisar Hong Gie menuruti permintaan putrinya dan mengirim surat kepada Sunan Gunung Jati.

Pengiriman surat tersebut bertujuan untuk meminta Sunan Gunung Jati untuk meminang putri Ong Tien dan sang Sunan pun menyetujuinya.

Makam putri Ong Tien sendiri dekat dengan makam Sunan Gunung Jati , dan dekat makamnya itulah terdapat guci keramik yang ia bawa.

Misteri 9 Pintu Makam Sunan Gunung Jati

Para peziarah banyak yang mengira bahwa pada balik pintu yang mereka ziarahi adalah makam Sunan Gunung Jati.

Padahal masih ada banyak batasan-batasan pintu lagi yang harus mereka lewati untuk sampai pada makam Sunan Gunung Jati.

Ada 9 pintu yang memiliki tingkatan dan nama yang berbeda-beda.

Diantaranya ada Pintu Gapura, Pintu Krapyak, Pintu Pasujudan, Pintu Ratnakomala, Pintu Jinem, Pintu Rararoga, Pintu Kaca, Pintu Bacem dan Pintu Teratai.

Pintu Pasujudan yang mana penulis telah melakukan wawancara kepada Bapak Jirjis (Ajis) selaku Juru Kunci komplek pemakaman Sunan Gunung Jati.

Beliau menerangkan bahwa para peziarah melakukan ziarah hanya sampai pada komplek makam pintu pasujudan saja dikarenakan membawa rombongan yang banyak.

Untuk mencapai pada makam Sunan Gunung Jati pada pintu Teratai, harus ada izin sesuai dengan prosedur.

Beliau juga menjelaskan bahwa komplek pemakaman Sunan Gunung Jati dibangun sekitar tahun 1948.

Yang mana hingga sekarang peninggalan-peninggalan Sunan Gunung Jati hingga sekarang masih terawat dengan sangat baik.

Sampai sekarang ornamen-ornamen alkuturasi budaya Jawa, Arab dan Tionghoa masih utuh dan cantik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini