Beranda Artikel “Kami Ada, Kami Melindungi: Satgas Anti Kekerasan Seksual Al Falah”

“Kami Ada, Kami Melindungi: Satgas Anti Kekerasan Seksual Al Falah”

872
0
"Kami percaya padamu. Suaramu berharga".

Kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja, bahkan di ruang paling aman seperti pesantren. Sebagai rumah kedua, pesantren harus berani memberikan jaminan keamanan dan perlindungan. Alih-alih menawarkan rasa nyaman, tapi pesantren harus berkomitmen memberikan rasa aman bagi setiap santri. Tentu persoalan seperti ini harus menjadi perhatian khusus bagi Al-Mujtama’ At-Ta’limi/semua kalangan dalam ekosistem pendidikan pesantren.

Fenomena kekerasan seksual dalam ranah pendidikan berada di posisi pertama mengalahkan ruang publik, keluarga, dan tempat lainnya. Berdasarkan data terbaru Komnas Perempuan tahun 2025, pesantren menduduki peringkat kedua tertinggi setelah universitas. Artinya, lingkungan yang selama ini dianggap aman pun tidak kebal terhadap potensi kekerasan. Tanpa sistem perlindungan yang jelas, rasa aman hanya menjadi asumsi, bukan jaminan.

Di sisi lain, banyak kasus kekerasan seksual tidak pernah terungkap ke permukaan. Rasa takut, stigma, serta ketidakjelasan mekanisme pelaporan sering kali membuat korban memilih diam. Kekerasan seksual hanya membusuk dalam pikiran korban sendiri, hingga mengganggu psikologi dan rasa trauma pribadi. Dalam kondisi seperti ini, kekerasan tidak hanya terjadi tetapi juga tersembunyi dan sulit ditangani.

Karena itulah Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al Falah mengambil langkah konkret dalam memberikan jaminan keamanan dan rasa aman bagi semua santri. Dengan aksi nyata membentuk satgas anti kekerasan seksual di pesantren, yang sudah memiliki prosedur dan sistem pengelolaan sesuai dengan standar undang-undang.

Kehadiran Satuan Tugas Anti Kekerasan Seksual di Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al Falah bukan sekadar pelengkap struktural atau simbol administratif semata. Lebih dari itu, satgas ini merupakan wujud komitmen nyata pesantren dalam membangun lingkungan yang aman dan bebas dari segala bentuk sexual violence.

Dengan mengedepankan upaya pencegahan, menyediakan ruang pengaduan yang aman, serta memastikan adanya mekanisme pendampingan dan penanganan yang jelas. Satgas ini hadir sebagai bagian dari ikhtiar kolektif untuk menjaga setiap santri dari risiko yang selama ini kerap tidak terlihat, namun nyata adanya.

Peran dan Tugas

Dalam menjalankan komitmennya, satgas anti kekerasan seksual Al Falah, memiliki struktur yang cukup baik, dengan mendapatkan pengawasan langsung dari dewan pengelola yayasan, terdapat empat poros divisi sebagai motor penggerak lapangan, di antaranya: divisi pencegahan, divisi penanganan, divisi pemulihan, dan advokasi santri.

Melalui upaya pencegahan berupa edukasi, integrasi nilai anti kekerasan seksual dalam pelajaran, membangun sistem pendidikan yang aman, dan penguatan infrastruktur seperti kotak aduan dan CCTV, memperkuat langkah bahwa Al Falah memiliki konsen terhadap pencegahan kekerasan seksual di pesantren.

Tidak berhenti di situ, tim Satgas Al Falah berupaya memberikan pelayanan terbaik dari setiap laporan yang masuk. Karena bagi kami bersuara bukanlah hal yang mudah, ada rasa perih ketika teringat kembali, ada rasa takut yang terus terbayang. Keberanian adalah kekuatan besar untuk memutus rantai kekerasan seksual di mana saja.

Kami tidak bekerja sendiri!

Koordinasi multidisiplin, agar setiap langkah yang kami lakukan tidak berjalan parsial, melainkan saling terhubung dan saling menguatkan. Sebab kami sadar, kekerasan seksual bukan persoalan sederhana. Tapi persoalan yang menyentuh aspek psikologis, sosial, hingga rasa aman korban. Karena itu, setiap laporan tidak hanya ditangani, tetapi juga didampingi secara utuh, sesuai dengan kebutuhan para korban.

Kami akan berdiri sepenuhnya untuk para penyintas. Komitmen kami untuk terus mengevaluasi diri, memperkuat sistem perlindungan secara berkala, dan memastikan bahwa pelayanan kami adalah pelayanan yang memulihkan martabat manusia.

Kami juga mengajak Al-Mujtama’ At-Ta’limi, untuk menjadi bagian dalam menjamin rasa aman bagi sesama. Sebab pada akhirnya, lingkungan yang aman bukanlah sesuatu yang diandaikan, tetapi harus diupayakan dan dijaga bersama.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini