pptialfalah.id – Perpustakaan PPTI Al Falah Salatiga sukses Bedah Buku ke-3 kalinya dengan tema “Re-aksentuansi Prespektif Islam dalam Kajian Ilmu Hubungan Internasional”, Rabu (13/07). Acara ini berlangsung di aula utama PPTI Al Falah Salatiga. Hadir secara langsung selaku pemateri, Bapak M. Qobidl ‘Ainul Arif, S.I.P, M. A, CIQnR. “Diskursus Soal Islam, Politik, dan Hubungan Internasional” merupakan buku yang menjelaskan tentang dinamika sosial politik nasional mau pun internasional yang berhubungan dengan Islam.
“Tentu kalau kita ketahui bahwasanya santri itu identik dengan ajaran kitab kuningnya, maka dari itu di samping kita belajar tentang agama lebih baik kita juga harus memperhatikan ilmu yang berkaitan dengan hubungan nasional maupun internasional,” ungkap ketua panitia, Riza Izzatul Ma’arif.
Sambutan Ning Siti Rofiah, M. H. membuka acara bedah buku kali ini.

“Kanjeng Rosul menjadi tauladan dalam konteks kita sebagai pembelajar harus bersikap kritis. Kritis artinya bisa menganalisis dengan cerdas setiap yang ada di hadapan kita. Jadi, bedah buku seperti ini adalah upaya literasi untuk selalu menajamkan analisis berpikir kita, agar tidak menjadi generasi yang selalu membebek (hanya mengikuti), santri itu harus manjadi garda terdepan dalam ilmu pengetahuan,” tutur beliau.
Pada bedah buku kali ini, pemateri mengupas dengan sedemikian rupa mengenai hubungan antara Islam, Politik, dan Hubungan Internasional. Bahkan pemateri juga menjelaskan mengenai kiat-kiat untuk menjadi muda-mudi yang berani masuk ke dunia Internasional. Berikut beberapa paparan beliau:
“Kalau kita lihat dalam buku saya itu intinya ada yakin bahwa hubungan internasional sebagai suatu diskursus ilmu lahir pada tahun 1919 dari rahim peradaban barat. Maka, tentunya tidak bisa lepas dari dominasi atau pengalaman teori-teori dari praktik barat. Padahal dalam konteks hubungan internasional prespektif Islam, sebetulnya Islam sudah datang jauh sebelum tahun 1919 membeicarakan tentang hubungan internasional.”
“Bentuk hubungan internasional dalam Islam sudah kita kenal dengan disiplin dengan nama ilmu siyar. Ilmu siyar adalah ilmu tentang hubungan antar negara dalam ilmu fiqih Islam, dan sudah ada sejak zaman Tabiut Tabi’in, sangat dekat dengan zaman Rosulullah.”
“Kita itu harus think globally, act locally. Jadi kita harus berpikir secara global dan berkerja sesuai dengan yang ada di sekitar kita. Jadi, kita akan terpacu memiliki kesadaran untuk memperbaiki keadaan sekitar.”











