Beranda Artikel Anjuran Menangis Ketika Membaca al-Qur’an Menurut Kitab At-Tibyan

Anjuran Menangis Ketika Membaca al-Qur’an Menurut Kitab At-Tibyan

1523
0

pptialfalah.id – Pernahkah kalian ketika membaca Al-Qur’an tiba-tiba meneteskan air mata? Atau pernahkah kalian ketika membaca Al-Qur’an hatinya merasa bergetar karena menemukan ayat yang memiliki makna yang menyentuh?

Mungkin tidak jarang, apabila seseorang ketika membaca Al-Qur’an merasa hatinya bergejolak hingga meneteskan air mata. Walaupun itu hanya sekedar mendengarkan seseorang yang membaca Al-Qur’an atau seorang Qori’ bersuara merdu ketika membaca Al-Qur’an. Tentu kalian tidak akan luput dan secara tidak sadar air mata menetes dengan sendirinya.

Hal tersebut merupakan sesuatu yang tak jarang. Mengindikasikan bahwa kalian merasa sadar diri sebagai seorang hamba yang tak luput dari dosa dan kesalahan. Dan apabila ketika kalian membaca atau mendengarkan Al-Qur’an tidak pernah merasa tersentuh atau hadir kedamaian dalam hati, maka sudah seharusnya perlu menjadi pertanyaan.

Banyak riwayat hadist yang menceritakan para sahabat terdahulu menangis ketika membaca Al-Qur’an. Seperti hadist riwayat Umar bin Khatab R.A, dalam kitab At-Tibyan menceritakan bahwa beliau menangis ketika membaca Surah Yusuf pada saat melaksanakan jama’ah sholat subuh. Beliau menangis hingga air matanya membahasi tulang bahunya.

Riwayat lain menyebutkan, bahwa kejadian tersebut tidak hanya saat melaksanakan jama’ah sholat subuh saja, akan tetapi kejadian tersebut juga berlangsung ketika Umar bin Khattab melaksanakan sholat Isya’. Hal tersebut menunjukan bahwa tangisan beliau dilakukan secara berulang-ulang.

Dalam riwayat yang lain juga menjelaskan bahwa beliau menangis hingga tangisannya terdengar dari belakang shaf-shaf shalat.

Dalam riwayat Abu sholih, beliau berkata: Beberapa orang dari Tanah Yaman mendatangi Abu Bakar As-Shidiq R.A, lalu mereka membaca Al-Qur’an dan menangis.

Sebagai sebuah bukti dan mengenai hal yang benar, secara langsung Abu Bakar As-shidiq berkata dalam sebuah hadist riwayat Abu Sholih: Demikianlah keadaan kami pada saat membaca Al-Qur’an. Banyak atsar lain yang meriwayatkan mengenai sub bab ini.

Al-Imam Al-Hafidz Abi Zakaria Yahya Ibnu Syaraf An-Nawawi, pengarang kitab At-Tibyan telah berkata: Masih banyak atsar yang tak terhitung, semoga yang kami sebutkan sudah dapat mencukupi. Wallahua’lam.

Bagaimana Cara Menangis Ketika Membaca Al-Qur’an

Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an merupakan kitab karangan Al-Imam Al-Hafidz Abi Zakaria Yahya Ibnu Syaraf An-Nawawi. Kitab tersebut berisi tentang adab para penghafal al-Qur’an.

Sudah disebutkan oleh banyak riwayat mengenai anjuran menangis ketika membaca Al-qur’an melalui kisah para sahabat. Baik itu dalam sholat maupun luar sholat.

Banyak hadits dan atsar yang menjelaskan hal yang sama mengenai anjuran menangis ketika membaca Al-Qur’an. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi SAW: “Bacalah Al-Qur’an dan menangislah. Jika tidak dapat menangis, paksakan dirimu untuk menangis”. (HR. Ibnu Majah)

Maka sudah jelas bahwa menangis ketika membaca Al-Qur’an adalah sebuah anjuran bagi semua umat muslim yang membacanya.

Untuk kalian yang ketika membaca Al-Qur’an belum menghadirkan air mata atau meletakkan hati dengan lembut dan tenang. Adapun beberapa cara agar pembaca Al-Qur’an dapat menangis yang dijelaskan dalam kitab At-Tibyan.

Pertama, Mentadaburi Ayat.

Ibrahim al-Khawash berkata “Obat Hati ada Lima” atau yang sering kita lantunkan dalam puji-pujian “Tombo ati iku limo perkarane”, yang salah satunya adalah “Moco Qur’an sak Maknane” (Membaca Al-Qur’an beserta maknanya) atau mendalami maknanya.

Salah satu anjuran yang bersumber dari lantunan puji-pujian sehingga kita dapat mudah mengingat juga menjadi salah satu cara agar kita dapat menangis ketika membaca Al-Qur’an yaitu membaca ayat beserta kita mengetahui makna yang terkandung dalam ayat tersebut.

Dan untuk seseorang yang tidak faham arti atau maknanya. Membaca terjemah atau tafsir Al-Qur’an menjadi salah satu trik untuk mendalami dan tahu isi Al-Qur’an.

Kedua, Mengulang-ulang ayat untuk merenungi maknanya.

Selain mentadaburi atau mendalami makna ayat, perlunya kita untuk mengulang-ulang ayat dan merenungi isi maknannya. Hal tersebut menjadikan salah satu contoh agar kita menangis ketika membaca Al-Qur’an.

Ketiga, bersumber dari Al-Qur’an, Abu Hamid al-Ghozali menerangkan tentang cara menangis saat membaca Al-Qur’an yaitu dengan cara merenungkan ancaman-ancaman pedih dan janji-janji dari Allah, kemudian menyadari dan merenungkan dampak jika kita lalai dan ceroboh dalam hal itu. Jika belum bisa menangis atau merasa susah sebagaimana yang di alami oleh orang-orang terpilih, yaitu agar ia berusaha untuk menangis atas ketidakmampuannya, padahal hal tersebut adalah suatu musibah yang besar.

Menangis ketika membaca Al-Qur’an bukan sekedar kelemahan emosiaonal, namun sebagai bentuk cerminan kepekaan hati dan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT.

Air mata yang menetes ketika kita membaca Al-Qur’an merupakan sebagai bentuk bahwa hati kita masih hidup dan mampu merasakan getaran makna yanga ada dalam setiap ayat-ayat Al-Qur’an.

Para sahabat terdahulu memberikan teladan bahwa tangisan karena al-Qur’an adalah sebagai wujud ketulusan iman, rasa takut akan dosa, dan harapan akan rahmat Allah SWT.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini