pptialfalah.id – Kita perlu tahu, bahwa saling memahami dan mengerti tidak selalu tentang pacar ataupun kekasih. Akan tetapi, semestinya perlunya kita memahami dan mengerti kepada diri sendiri.
Diri Sendiri: “Kamu lebih memilih memahami dan mengerti tentang orang lain, tapi dirimu sendiri malah kau abaikan?”
Diri Sendiri: “Hei tuan atau nona…Saya pun juga butuh perhatian!”
Gambaran self to self. Begitulah kira-kira
“We speak, and we judge”
Tentu itu perlu, apalagi memahami diri sendiri sangat memiliki sangkut paut dengan kesehatan. Janganlah kita sampai mengabaikannya, terutama soal kesehatan mental.
Kita haruslah sadar akan tentang Kesehatan mental. Mental yang terkontrol tentunya akan menjadikan diri sendiri merujuk pada pikiran yang positif dan memiliki tubuh yang sehat.
Dengan demikian, mental yang sehat akan menjadikan hidup berkualitas dan dapat menjalani kehidupan dengan produktif.
Self reward, merupakan salah satu cara menjaga kesehatan mental dan juga bentuk tindakan yang positif guna mengapresiasi diri atas pencapaian yang telah kita lakukan.
Hal tersebut sudah sepantasnya menjadi perhatian dan jangan sampai kita anggap sepele. Self reward menjadikan salah satu cara sederhana bentuk peduli terhadap diri sendiri.
Salah satu contoh, ketika seseorang memenangkan suatu perlombaan maupun pertandingan dalam suatu arena, dimana dalam arena tersebut banyak orang memberikan tepuk tangan kepadanya. Bagaimana dengan perasaan orang yang memenangkan perlombaan maupun pertandingan tersebut?
Tentunya sangat bahagia dan senang sekali, karena banyak orang yang memberikan apresiasi berupa tepuk tangan kepadanya.
Tidak hanya itu, ia semestinya juga mendapatkan penghargaan berupa medali ataupun piala bahkan piagam penghargaan yang sudah tertulis namanya sebagai pemenang. Akan tetapi, Bagaimana dengan diri kita sendiri? Minimal, sudahkah kita mengapresiasi diri sendiri? Kalau sudah, apa bentuk apresiasi tersebut?
Sayangnya, banyak juga yang menganggap bahwa self reward merupakan bentuk keegoisan dan juga bentuk pemborosan atau hedonism.
Niat menjadikan self Reward untuk memberi penghargaan terhadap diri sendiri, akan tetapi malah menjadikan kantong sering kali terkuras, uang cepet habis dan berujung menjadi self-wasting (Pemborosan).
Anggapan tersebut mungkin juga dirasakan sebagian orang yang belum bisa mengelola bentuk self reward dengan baik dan menerapkannya secara wajar dalam kehidupan. Sehingga mudahnya mengklaim self reward sebagai sesuatu pemborosan dan bukan sebaliknya yang memberikan manfaat yang optimal.
Lantas, bagaimana kita dapat memahami self-reward dan menerapkannya secara bijak?
Memahami dan Memaknai Self Reward
Mengutip situs resmi DJKN Kemenkeu, memaknai umum tentang self reward, bahwa pada dasarnya self reward merupakan sebuah bentuk penghargaan atau apresiasi terhadap diri sendiri usai berhasil dalam mencapai suatu tujuan tertentu.
Sejatinya, self reward merupakan satu-satunya bentuk penghargaan diri yang paling tepat karena dapat memunculkan dampak bahagia dalam diri sendiri.
Bukan hanya bentuk apresiasi saja, namun kita juga dapat memaknai self reward sebagai bentuk kecintaan atau mencintai diri sendiri. Self reward juga memiliki pengaruh positif terutama bagi kesehatan mental.
Dilansir dari halodoc.com. ternyata penting sekali melakukan self reward untuk kestabilan mental.
Seperti, dapat memberikan perasaan bahagia, meningkatkan harga diri, memberikan energi positif, dan dapat menghilangkan rasa lelah serta stress. Tentu sangatlah penting menjaga kesehatan diri sendiri terutama dalam kestabilan mental.
Pada umumya banyak orang yang memahami dan mengenal self reward sebagai apresiasi diri berupa jalan-jalan, membeli sesuatu yang menjadi keinginannya, baik itu barang ataupun makanan.
Sehingga prespektif banyak orang bahwa self reward sebagai suatu bentuk pemborosan. Padahal ada acara bagaimana seseorang mengelola self reward dengan baik dan bijak, melakukan dalam porsi dan batasan yang normal sehingga tidak akan mengurangi sedikit pun motivasi dan fokus untuk mencapai tujuan.
Tips “Self Reward” Anti Boros
Self reward merupakan cara efektif untuk memotivasi diri dan mengapresiasi pencapaian. Namun, ada kalanya pengelolaan yang bijak dan strategi yang tepat untuk menghitung komposisi self reward sehingga tidak berkedok menjadi self wasting atau pemborosan.
Berikut, penulis akan membagikan beberapa tips mengetur komposisi “self reward” anti boros yang dapat para readers terapkan.
- Perencanaan Anggaran Self-Reward
Perencanaan anggaran bisa kita lakukan dengan cara menabung secara rutin dan bertahap. Misal, kamu dapat menabung jauh-jauh hari untuk memberikan sesuatu sebagai bentuk apresiasi pada diri sendiri ketika suatu saat nanti kamu berhasil meraih sesuatu atau menyelesaikan sesuatu.
- Membeli sesuatu yang bersifat prioritas berdasarkan pencapaian
Seringkali kita membeli sesuatu yang bukan prioritas. Inilah salah satu bentuk self reward berujung pemborosan atau self wasting. Seringkali membeli sesuatu yang berlebihan sehingga malah menjadikan loss budget.
Oleh karena itu, pentingnya menyusun to do list hadiah bersifat prioritas, sehingga setiap kali lolos dalam pencapaian, readers dapat wujudkan hadiah untuk diri sendiri yang sesuai.
- Manfaatkan Diskon dan Promo
Nah…ini bisa menjadi salah satu teknik cerdas self reward anti boros, yakni dengan memanfaatkan diskon dan promo. Manfaatkan tempat atau barang yang menawarkan potongan harga. Sehingga readers dapat menikmati reward dengan harga terjangkau.
Namun, secara simplitis self reward merupakan suatu bentuk dimana kita merasa cukup atas apa yang kita miliki. Perasaan cukup atas apa yang kita miliki sudah menjadi self reward terbesar dalam hidup. Memberikan afirmasi positif pada diri sendiri, bersyukur, dan tidak menjadikan standar orang lain untuk mengukur diri sendiri merupakan cara yang paling sederhana dalam self reward.
Jadi, apapun itu self reward yang kamu pilih, tetaplah tidak lupa dengan tujuanmu, motivasimu, dan dirimu sendiri. Terutma kepada Kesehatan mentalmu dan bijak serta disiplin dalam pengelolaan keuangan.











