pptialfalah.id – Kita ketahui bersama bahwa beberapa waktu lalu telah terjadi fenomena alam yakni gerhana bulan total. BMKG telah memberikan informasi resmi terkait kapan akan terjadinya gerhana bulan total di wilayah Indonesia.
Informasi BMKG menyebutkan bahwa gerhana bulan total akan terjadi pada 8 September 2025, pukul 00.30 – 01.53 WIB.
Banyak orang menilai bahwa gerhana bulan merupakan fenomena alam yang langka. Bahkan, tidak sedikit dari Masyarakat yang menunggu – nunggu momen terjadinya gerhana, entah hanya sekedar untuk menyaksikan atau ikut serta mengabadikan.
Mengutip dari Wikipedia, bahwa gerhana bulan terjadi ketika bulan tertutup oleh bayangan bumi.
Peristiwa ini hanya akan terjadi Ketika posisi matahari, bumi, dan bulan tepat atau hampir membentuk garis lurus dan bulan berada dalam fase bulan purnama.
Bulan yang mengalami gerhana total juga sering disebut bulan darah karena warna yang kemerahannya. Warna tersebut merupakan akibat dari Cahaya matahari yang terefraksi oleh atmosfer bumi dan mencapai permukaan bulan.
Ketika gerhana bulan terjadi, bulan purnama yang sebelumnya berwarna putih terang akan sedikit berwarna kemerahan di bagian atas kiri. Tanda fenomena ini sebagai awal terjadinya gerhana bulan.
Dalam pandangan islam, gerhana bukan hanya sekedar peristiwa astronomi, melainkan tanda kebesaran dan kekuasaan allah yang mengandung pesan penting bagi kehidupan manusia. Seperti dalam Al-Qur’an disebutkan:
Yang artinya “Dan dia telah menundukkan matahari dan bulan yang terus menerus beredar (untukmu) dan menundukkan malam dan siang”
Ayat ini menegaskan bahwa peredaran bulan merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Saat terjadi gerhana itu hanya sebagian kecil dari ketepatannya, bukan menandakan perkara sial ataupun musibah lainnya melainkan peringatan bagi manusia untuk kebesaran sang pencipta.
Dalam riwayat nabi lainnya juga di sebutkan:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahiran seseorang. Maka apabila kalian melihatnya berdo’alah kepada allah dan bersedekahlah.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Hadist ini muncul pada saat terjadinya gerhana dan dihubungkan dengan kematian putra nabi yakni Ibrahim oleh Masyarakat Arab saat itu.
Rasulullah meluruskan keyakinan dan memberikan pelajaran bahwa gerhana bukan karena laki-laki ataupun perempuan, bukan karena pemimpin dan rakyat melainkan murni bahwa itu tanda kekuasaan dan keadilan Allah.
Hadist ini juga menegaskan bahwa ini menjadi momen bagi seorang muslim semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui sholat khusuf (sholat gerhana bulan), berdo’a, bertasbih dan bersedekah.
Dari hadist tersebut juga menjelaskan bahwa fenomena ini memberi Pelajaran yang sangat penting dalam arti kesetaraan.
Gerhana tidak memiliki jenis kelamin, pangkat bahkan status sosial. Dalam Al-Qur’an di sebutkan: “Barang siapa mengerjakan amal Sholeh, baik laki-laki maupun perempun dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl :97)
Dari ayat tersebut, konteks kesetaraan dalam gerhana sangat jelas bahwa semua umat islam baik laki-laki maupun Perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam beribadah: melaksanakan sholat khusuf, bedo’a, bersedekah dan merenungi kebesaran Allah.
Melalui pesan-pesan tersebut kita ketahui bahwa gerhana bulan bukan hanya mejadi fenomena alam saja, melainkan menjadi momentum spiritual bagi kita semua sebagai makhluk Allah, memiliki kewajiban dan kesempatan untuk beribadah dan sama-sama memiliki potensi meraih derajat yang mulia.
Terakhir, kita menyadari bahwa gerhana bulan mengajarkan kita tentang dua hal: kebesaran Allah yang perlu kita renungi dan kesetaraan manusia yang harus kita jaga.
Sebagaimana yang terjadi pada matahari, bumi dan bulan yang beredar sesuai dengan orbitnya tanpa adanya saling merendahkan. Demikian pula laki-laki dan Perempuan memiliki kemuliaan yang sama dalam sisi Allah dalam hidup iman dan takwa.










