ppti.alfalah.id – Sapa santri, mungkin telah menjadi satu-satunya momentum yang menghadirkan semua kalangan jenjang usia. Mulai dari santri SMP hingga santri Mahasiswa.
Bahkan tidak hanya santri yang menyandang sebagai siswa maupun mahasiswa. Namun, santri yang menjadi bapak/ibu guru juga ikut serta.
Acara yang berlangsung pada Kamis, (2/10) pada Aulia Utama PPTI Al Falah Salatiga. Mereka sangat berantusias mengikuti acara tersebut.
Terlihat dalam penyampaian materi, semua santri PPTI Al Falah sangat khidmat untuk mendengarkan, mencatat, dan memahami materi tersebut.
Bersama Nyai Dr. Nur Rofiah, Bil.Uzm, sebagai pemateri, beliau menyajikan materi yang mudah dipahami oleh banyak santri dari berbagai kalangan usia.
Walaupun pada hakikatnya materi yang mengarah dan menjadi ranah untuk kalangan Mahasantri atau Mahasiswa.
Merujuk pada tema, “Menuju Generasi Qur’ani: Keren dengan Akhlak, Mantap dengan Ilmu”, banyak point penting yang beliau terangkan, dan juga Al-qur’an sebagai bahan rujukan yang harus dan wajib bagi para santri untuk mengerti dan memahaminya.
Salah satunya mengenai materi tentang pemahaman antara ilmu agama dengan ilmu umum.
Dua ilmu yang sering kali menjadi problem, mengalami statement fragmentasi atau menjadi dua bagian yang sering disebut sebagai dikotomi.
Mana yang paling penting antara keduanya?
Beliau menjelaskan bahwa untuk para santri yang kelak menjadi generasi Qur’ani semua harus paham mana yang lebih penting antara ilmu agama dan ilmu umum yang merujuk pada segi ilmu Al-Qur’an.
Dalam materinya, beliau menjelaskan bahwa hakikatnya, ketika para Ulama’ memahami Al-Qur’an maka lahir lah Tafsir. Dan Tafsir, ketika kita pelajari maka lahir lah Ilmu Agama.
Begitupula ketika para Ilmuwan mempelajari alam semesta dan seisinya maka akan lahirlah sebuah teori. Dan ketika teori berkembang, maka lahirlah Ilmu Umum.
“Keduanya penting, walaupun ilmu umum bersifat duniawi ketika kita gunakan untuk kemaslahatan atau kebermanfaatan, maka hal tersebut akan menjadi ilmu agama (ilmu ukhrawi)“, jelas Nyai Nur Rofiah selaku Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir PTIQ Jakarta.
Jadi, sudah jelas bahwa antara kedua ilmu tersebut sama-sama penting, terutama ketika kita gunakan untuk kemaslahatan.
“Tapi, ketika ilmu agama ia gunakan untuk hal yang dzolim, maka akan hilang ilmu agama yang ia miliki”, pungkasnya.
Sebagai generasi Qur’ani masa depan, selain keren dalam akhlak atau ilmu agama. Santri juga harus mantap dalam ilmu. Maksudnya baik dari segi ilmu agama maupun ilmu umum yang kelak bermanfaat dan membawa kemaslahatan untuk banyak khalayak.











