
pptialfalah.id – Memahami tentang esensi kunci keberhasilan dalam belajar mungkin sudah banyak diterapkan oleh orang-orang jenius ataupun orang yang memiliki IQ tinggi. Namun, masing-masing mungkin memiliki cara penerapan yang berbeda.
Orang jenius ataupun memiliki IQ tinggi tidak serta merta mengandalkan kepintarannya yang mereka dapat sejak lahir.
Sosok Albert Einstein yang memiliki IQ 160 hingga sosok BJ Habibie yang memiliki IQ hingga 200 pun sejak lahir mereka juga tidak berhenti untuk belajar hingga akhir hayatnya.
Banyak yang berstatement bahwa orang yang berhasil dalam penelitiannya ataupun memiliki angka atau nilai tinggi dalam bidang akademik hanya berlabel pada orang-orang yang cerdas dan pintar saja.
“Pantas saja nilainya bagus, pantas saja dia berhasil memang aslinya orangnya cerdas, dari dulu memang sudah pintar.”
Padahal sejatinya orang-orang tersebut tidak hanya mengandalkan kecerdasannya yang mereka wariskan dari genetik orang tua.
Namun, mereka berhasil karena cara mereka dengan memiliki aturan yang teretata atau mereka yang telah berhasil dalam belajar.
Secara umum, banyak sekali menyebutkan bahwa kunci berhasil dalam belajar tidak hanya satu point saja yang harus kita perhatikan sebagai pencari ilmu.
Perlu kita ketahui bahwa kunci kesuksesan dalam belajar memiliki segudang manfaat. Salah satunya adalah pola pikir yang berkembang atau Growth Mindset.
Pentingnya setiap individu memiliki sebuah growth mindset. Selain mampu membuat atau mengambil keputusan yang tepat, perlunya pola pikir yang berkembang yaitu agar kita mampu menghadapi apapun tantangan masa depan.
Dalam kitab Ta’limul Muta’alim yang kini menjadi pegangan khususnya para pencari ilmu bahwa ada dua kunci keberhasilan dalam belajar yang harus kita perhatikan dengan seksama.
Tidak hanya bagi pencari ilmu saja, hal ini dapat kita terapkan bagi siapapun yang ingin berhasil dalam meraih sesuatu.
Bersungguh-sungguh adalah Pokok Keberhasilan
Bersumgguh-sungguh atau “Jiddun” merupakan sebuah kata kunci yang menjadi pembuka pintu kesuksesan. Apabila kita tidak memiliki kunci tersebut sesuatu yang kita inginkan mungkinkah untuk terwujud?
Tentu saja tidak. Perintah bersungguh-sungguh dalam belajar maupun beribadah hal ini sudah termaktub dalam ayat Al-Qur’an Surah Maryam ayat 12.
Yang pada intinya perintah untuk bersungguh-sungguh dalam mempelajari sesuatu sehingga kelak kalian akan menuai keberhasilan atas kesungguhan tersebut.
Selain itu Syekh Imam Az Zarnuji, pengarang kitab Ta’limul Muta’alim juga menjelaskan bahwa dibalik keberhasilan para pencari ilmu tidak hanya sungguh-sungguhnya seorang pencari ilmu saja. Akan tetapi, sungguh-sungguhnya guru beserta kedua orang tua adalah penyempurna para pencari ilmu tersebut untuk meraih keberhasilan dalam belajar. Karena sejatinya bersungguh-sungguh adalah kunci dari setiap pintu-pintu yang akan kalian masuki.
Bercita-cita Luhur adalah Tujuan Mulia dan Berharga
Siapa yang tidak pernah bermimpi? Dan siapa yang tidak pernah memiliki mimpi?
Tentu masing-masing dari kalian memiliki mimpi atau cita-cita. Lebih spesifiknya dalam KBBI bercita-cita memiliki arti keinginan yang selalu ada dalam pikiran. Atau dalam kamus Oxford yang berarti berkeinginan sungguh-sungguh.
Kembali dalam sub tema bersungguh-sungguh bahwa bercita-cita luhur adalah modal yang harus kita jalankan dengan sungguh-sungguh.
Tanpa mimpi maupun cita-cita akan pergi kemana kah tujuan hidup kita?
Dalam kitab Ta’limul Muta’alim diterangkan bahwa seseorang yang memiliki cita-cita tinggi maka ia harus menggandengnya dengan usaha, ketekunan dan juga keistiqomahan.
Apa yang ingin engkau wujudkan, apa yang kau ingin cita-citakan adalah suatu tujuan yang sangat mulia.
Dan akan menjadi sangat berharga apabila cita-citamu engkau sandarkan karena Ridho-Nya.
“Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.” (Ir. Soekarno)










