pptialfalah.id – Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam (PPTI) Al Falah Salatiga kembali menjadi pusat perhatian dunia akademik Internasional. Selasa, (23/6).
PPTI Al Falah Salatiga menyambut kunjungan delegasi Internasional peneliti dan mahasiswa Evangelische Hochschule Hessen (EHH), Jerman, dan United Evangelical Mission (UEM).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program penelitian kolaboratif mereka yang berfokus pada bidang agama, pelayanan sosial, dan keberlanjutan.
Para akademisi Internasional EHH dan UEM ini didampingi oleh sejumlah dosen dan mahasiswa peneliti dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
Delegasi Internasional tersebut terdiri dari tiga profesor dan enam mahasiswa EHH, dua perwakilan dari UEM, tiga pendamping dan enam mahasiswa dari UKSW.
Sebagai delegasi yang bekerja pada layanan sosial semuanya memiliki latar belakang agama protestan dan Katholik.
Jadi mereka tertarik dan ingin tahu tentang masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam, terutama pada pendidikan Islam dalam lingkungan pesantren.
Baik dari segi tradisi serta budaya pesantren melalui kegiatan sehari-hari para santri yang tersusun secara struktural.
PPTI Al Falah Salatiga merupakan pesantren yang pertama kali mereka singgahi sejak mereka datang ke Indonesia.
Prof. Dr. Gotlind Ulshöfer: Director at the Institute for interdisciplinary Diaconic and Social Science Studies (Tied), menerangkan bahwa ia pertama kali mengunjungi pesantren yang ada Indonesia.
Sebelumnya, ia sempat mengunjungi gereja-gereja yang terletak di Sulawesi Utara sekitar 10 tahun yang lalu.
Selain belajar mengenai kesetaraan gender, yang mana dalam prespektif mereka bahwa di negara mereka perempuan menjadi pemimpin adalah hal yang sangat jarang. Mereka juga belajar tentang tradisi dan budaya pesantren.
Mulai dari cara berpakaian yang mengenakan hijab, kegiatan pesantren dalam sehari-hari yang bisa memadukan antara tradisi ke modernitas sekarang.
“Jadi menarik bagi saya untuk melihat bagaimana kalian mencoba mengadaptasi tradisi kalian ke modernitas, dalam hal tertentu”, ujarnya.
Memadukan tentang tradisi dan budaya pesantren dalam kehidupan sehari-hari bagi mereka adalah hal yang begitu sulit. Namun, hal tersebut bagi kita dalam pandangan mereka adalah hal yang begitu mudah.
“Ini adalah diskusi yang paling penting untuk kami hadapi. Dengan kerudung, kami memiliki asosiasi yang berbeda, ide yang berbeda, seperti yang mungkin kalian miliki karena bagi kalian itu normal. Itulah perbedaannya. Memperkaya dan menarik untuk dilihat, namun bagi kalian ini hanya bagian dari budaya”, pungkasnya.











