Beranda Artikel Suara Perempuan dalam Tulisan: Memoar Broken Strings Menjadi Ruang Aman Bagi Penyintas

Suara Perempuan dalam Tulisan: Memoar Broken Strings Menjadi Ruang Aman Bagi Penyintas

1015
0

pptialafalah.id – Suara perempuan dalam novel Broken Strings belakangan ini masih ramai menjadi perbincangan hangat media sosial.

Awal tahun 2026 menjadi momen bersejarah bagi salah seorang perempuan yang memiliki kesempatan untuk bersuara. Dan kini suaranya pun didengar dan mulai mendapat perhatian publik.

Judul yang sama, “Broken Strings” pada lagu ketiga Alan Walker dalam albumnya yang berjudul World of Walker, Season one: Rise of the Drones yang akan segera liris.

Namun dalam konteks pembahasan ini kita tidak membahas mengenai sebuah judul lagu. Akan tetapi sebuah judul bacaan novel yang menceritakan tentang memoar masa kelam sosok anak perempuan dibawah umur yang mendapatkan perlakuan buruk oleh laki-laki berusia 29 tahun.

Trauma dan gangguan psikologis menjadi salah satu akibat  yang harus kita ketahui lebih dini untuk kita senantiasa selalu berhati-hati.

Bacaan yang disajikan dalam bentuk e-book atau buku digital  dapat kita unduh melalui akun Instagram penulis secara gratis. Sehingga kita dapat mudah mengaksesnya melalui file penyimpanan dalam gadget kapan pun.

Broken Strings merupakan sebuah novel yang mengangkat kepingan masa muda yang kelam sosok Aurelie Moeremans selaku penulis ketika ia masih berusia 15 tahun.

Aurelie mendapat perlakuan buruk yang berawal dari hubungan pertemanannya dengan seorang laki-laki yang berusia dua kali lipatnya. Dalam ceritanya, Aurelie memberi nama tokoh tersebut dengan samaran “Bobby”.

Bobby atau pelaku dalam cerita tersebut merupakan teman sekaligus sosok yang tampil sangat perhatian, baik, dan lemah lembut.

Namun malah sebaliknya, dari balik sikap baiknya yang dapat menghipnotis Aurelie dan orang-orang sekitarnya lambat laun menampakkan kebusukannya menjadi sosok yang manipulatif, toxic, dan menjadi pelaku dalam kekerasan emosional, fisik maupun seksual.

Aurelie menjadi salah satu korban dari Bobby dari usianya yang sangat belia dan berlangsung hingga ia berusia 22 tahun untuk bisa bebas.

Masa-masa bertumbuh untuk mengukir prestasi. Namun berbanding terbalik bagi Aurelie yang harus mengalami tekanan batin dan kekerasan seksual.

Aurelie tak ada daya untuk melawan dan memiliki keberanian untuk berbicara mengenai kejadian tersebut. Mungkin rasa takut yang Aurelie miliki berawal dari ancaman yang bertubi-tubi dari sosok Bobby. Sehingga yang dirasakan oleh Aurelie kecil hanyalah ketakutan dan tekanan secara psikologis dalam dirinya.

Kejadian tersebut juga merupakan bentuk tanda-tanda bahwa ia telah menjadi korban dari sosok Bobby.

Terlihat nyata dalam perubahan perilaku Aurelie yang tidak seharusnya ada dalam diri sosok anak seusia Aurelie.

Selain itu tanda-tanda yang lainnya adalah dapat kita ketahui melalui ciri-ciri perlakuan buruk pelaku (predator) Bobby terhadap korban Aurelie.

Oleh karena itu apabila kita kumpulkan dalam bentuk data dapat kita simpulkan bahwa perlakuan yang dilakukan pelaku dan dampak bagi korban kita sebut dengan istilah Child Grooming.

Tentang Child Grooming

Child Grooming pada buku karya Aurelie Moeremans menjadi topik utama sekaligus isu yang belakangan ini banyak tersorot oleh publik baik dalam maupun luar media sosial.

Pembahasan kelam sosok Aurelie belum mendapat perhatian sedikitpun. Walaupun ia pernah speak up dalam akun media sosialnya. Kini berkat suara melalui tulisannya yang ia susun dalam ribuan kata dan menjadi sebuah buku, lambat laun mulai mendapat perhatian dan dukungan dari banyak kalangan.

Dengan suara satu perempuan yang pernah menjadi penyintas, dapat menyelamatkan banyak penyintas yang tidak kita ketahui.

Sebelum lanjut pada pembahasan berikutnya, kita harus paham terlebih dahulu mengenai apa makna dari child grooming itu sendiri.

Menurut tinjauan dr. Budiyanto MARS, yang dikutip dari halodoc.com, child grooming memiliki arti sebagai tindakan manipulasi yang dilakukan oleh orang dewasa (predator) terhadap anak-anak atau remaja dengan tujuan untuk mendapat kepercayaan, membangun hubungan emosional, dan akhirnya melakukan pelecehan seksual.

Hal tersebut dapat berdasarkan fakta pada setiap bab-bab dalam novel Aurelie. Ia menceritakannya secara detail setiap babnya, dan hampir keseluruhan bab juga menceritakan detail mengenai tindakan tersebut.

Dalam novelnya, tindak kekerasan emosional dan juga kekerasan seksual menjadi bagian chapter yang secara gamblang Aurelie ceritakan dari perlakuan pelaku yang sering Aurelie dapatkan.

Perlakuan kekerasan seksual terjadi ketika korban sudah termanipulasi oleh pelaku. Relasi kuasa yang sudah menguasai korban dengan mudah pelaku melancarkan aksinya tanpa perlawanan berarti. Mengapa demikian?

Rangkaian perilaku manipulatif untuk menguasai korban dibawah umur secara psikologis atau grooming, yang dilakukan oleh predator atau child groomer membuat korban terasa bergantung dan terisolasi. Sehingga korban akan sulit lepas dari berbagai macam luka psikologis yang mereka dapatkan.

Oleh karena itu perlunya kita dan masyarakat luas untuk mengetahui masalah dan juga melek literasi terhadap tindakan child grooming tersebut. Perlakuan yang dapat mengganggu psikologis anak dalam jangka panjang.

Ruang Literasi Sekaligus Rasa Aman

Isu child grooming kembali tersorot setelah viralnya novel berbentuk e-book yang Aurelie bagikan secara gratis yang rilis pada Desember 2025.

Pernah Aurelie membagikan ceritanya dalam postingan akun media sosialnya. Namun, hal tersebut sangat minim mendapat perhatian dan mendapat banyak tanggapan buruk dari masyarakat.

Mungkin karena Aurelie seorang aktris terkenal, sehingga anggapan-anggapan buruk dari netizen yang menganggap Aurelie hanya sekedar mencari sensasi, atau karena masyarakat dulu yang masih minim literasi.

Pada akhirnya Aurelie pun membagikan kisah kelam memoarnya dalam bentuk kumpulan tulisan atau sebuah novel. Novel yang selesai ia garap dan terbit pada Desember 2025 dan mendadak viral pada Januari 2026.

Aurelie menjelaskan alasan dan pemahaman dirinya sendiri setelah novel tersebut terbit.

Selain itu, ia juga membagikannya dalam chapter novelnya pada akhir bab dan pada postingan akun media sosialnya.

Aurelie mengungkapkan bahwa ia menulis bukan karena ceritanya, akan tetapi sebagai penyintas, aurelie tak ingin ada anak-anak di luar sana merasakan hal yang sama apa yang ia rasakan pada masa lalu.

Alasan lain, aurelie juga mengungkapkan bahwa melalui bukunya harapannya dapat memberikan dukungan kepada para penyintas agar mampu bangkit dan menolak untuk diam. Tak ada lagi anak muda yang bungkam soal kasus tersebut.

Tak hanya Aurelie yang bersuara. Semua pun harus ikut bersuara, baik muda maupun tua agar tidak berhenti hanya pada satu cerita namun juga diantara jutaan korban dan juga literasi untuk selalu waspada.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini