Beranda Artikel Pesantren Bagian 1: Pilar Pendidikan dan Moral Bangsa

Pesantren Bagian 1: Pilar Pendidikan dan Moral Bangsa

5430
0
Metode bandongan berfokus pada pengkajian kitab kuning di mana kiai (guru) membacakan, menerjemahkan, dan menjelaskan isi kitab secara langsung kepada santri yang menyimak dan mencatat.
Metode bandongan berfokus pada pengkajian kitab kuning di mana kiai (guru) membacakan, menerjemahkan, dan menjelaskan isi kitab secara langsung kepada santri yang menyimak dan mencatat.

Pesantren telah lahir jauh sebelum negeri ini merdeka. Dalam berbagai literatur tercatat bahwa kemunculan pesantren terjadi sekitar abad ke-14 Masehi. Salah satu bukti sejarahnya adalah berdirinya Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu di Kebumen yang telah ada sejak tahun 1475 Masehi, menunjukkan bahwa tradisi pendidikan Islam di Nusantara sudah berkembang jauh sebelum masa kolonial.

Pada mulanya, para ulama mendirikan tempat pengajian sederhana di serambi masjid sebagai sarana untuk menyebarkan ajaran Islam. Dari sinilah pesantren tumbuh sebagai sebuah lembaga yang tidak hanya menjadi pusat dakwah, tetapi juga wadah pembinaan moral dan keilmuan umat.

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan pendidikan yang lebih sistematis mendorong lahirnya pesantren dalam bentuk yang lebih terorganisir dan terstruktur, tanpa meninggalkan tiga unsur penting, di antaranya Kiai, Santri, dan Masjid sebagai pusat kegiatan.

Ibarat tanaman, pesantren tumbuh subur layaknya tanaman di kala hujan, dengan akar yang semakin kokoh dan ranting yang semakin menjulang ke angkasa, pesantren berkembang menjadi sistem pendidikan yang jauh lebih berkualitas.
Tidak heran jika sampai hari ini lebih dari 42.000 pesantren tetap kokoh menjadi bagian dari proses pendidikan akhlak di Indonesia.

Sistem Pendidikan Ala Pesantren

Mengkolaborasikan ilmu Ushuluddin dan penerapan nilai akhlakul karimah, santri sebagai unsur dalam pesantren harus menjunjung tinggi moralitas dan etika. Mencermikan sosok yang tak hanya taat beribadah, tapi juga memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Santri belajar bagaimana membangun hubungan vertikal yang baik antara seorang hamba dengan Tuhannya (hablum minallah), juga membangun hubungan horizontal antara sesama manusia (hablum minannas) dengan saling menghormati, saling menghargai, dan saling memaafkan satu dengan yang lainnya.

Melalui metode sorogan (metode individual antara santri yang menyetorkan langsung bacaan kitabnya dengan kiai) atau bandongan (metode komunal, santri mendengarkan penjelasan kiai) selalu menjadi ciri khas pesantren di setiap daerah.
sorogan dan bandongan melekat erat dalam sistem pendidikan ala pesantren, seperti halnya bayangan yang tak pernah meninggalkan tubuhnya.

Kedua metode ini terus lestari, walaupun dalam perkembangannya pesantren mulai mengintegrasikannya dengan pendidikan nasional. Tidak hanya sebatas ilmu agama saja, tetapi jauh lebih luas dengan mengkolaborasikan ilmu sains, teknologi, dan bahasa asing.

Artinya, pesantren mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman dan mampu merespon tantangan zaman untuk mencetak generasi yang kokoh dengan agamanya, tetapi tidak ketinggalan dengan zaman.

Penerapan Karakter dan Nilai dalam Pesantren

Proses pendidikan karakter pesantren tentunya tak lepas dari tiga unsur penting, di antaranya:

Ta’dib (تأديب) – Pembentukan Akhlak

Pembentukan karakter atau ta’dib mencakup pembentukan akhlak, etika, dan tata krama sesuai dengan ajaran Islam. Yang kemudian harapannya pesantren dapat melahirkan seseorang yang memiliki kepribadian mulia, yang mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dalam surah Al-Baqarah ayat 269, Allah SWT berfirman:

يُّؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 269)

Hikmah dalam konteks ini merujuk pada kebijaksanaan, rasa tanggung jawab, dan etika dalam mengambil keputusan di setiap situasi. Secara sederhana, santri mampu menyesuaikan diri dalam beretika sosial, baik dengan gurunya, orang yang lebih tua, serta etika terhadap teman sebaya.

Tarbiyah (تربية) — Pengembangan Potensi

Tarbiyah memiliki arti luas berkaitan dengan proses mengasuh, memelihara, dan mengembangkan potensi manusia secara menyeluruh. Dengan tujuan untuk mengembangkan seluruh aspek jasmani, akal, dan rohani sehingga terbentuk manusia yang memiliki keseimbangan antara ilmu, iman, dan amal.

ke-tiga unsur ini, menjadi syarat penting untuk tercapainya insan yang mulia di sisi Allah SWT, seperti yang telah disebutkan dalam firman Allah:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Tazkiyah (تزكية) — Penyucian Jiwa

Tak kalah penting dalam proses pendidikan karakter pesantren, tazkiyah an-nafs adalah proses penyucian hati dari sifat-sifat buruk (mazmumah).

Pembiasaan salat berjamaah, mengaji, berdzikir, akan memunculkan sifat ikhlas, sabar, dan mampu mengendalikan hawa nafsu, sehingga seseorang mampu menanamkan kesadaran bahwa ilmu dan amal harus didasari dengan hati yang suci.

doc. Tugu Mental API Tegalrejo
doc. Tugu Mental API Tegalrejo

Tiga proses pendidikan ini tidak boleh lepas dari dinamika pesantren. Nilai-nilai akhlakul karimah, gotong royong, ikhlas, dan saling menghormati timbul dengan sendirinya, dan senantiasa mengalir dalam setiap kehidupan pesantren. Sehingga pesantren benar-benar menjadi tonggak pembentukan karakter mulia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini