
Di dataran tinggi Gayo, keresahan alam tumbuh seiring rapuhnya lapisan tanah yang makin menipis. Seakan setiap retakan menyimpan kegelisahan yang begitu kelam bagi warganya.
Beralih Ke arah utara. Batang Toru masih menahan luka yang jarang kita ketahui. Rumah terakhir orangutan Tapanuli yang kian menyempit oleh perubahan habitat yang kini tak pernah memberikan arti kenyamanan lagi bagi mereka.
Sementara itu, Tesso Nilo di bagian Tengah mengisyaratkan kita tentang kegelisahan besar yang alam derita. Ketika hutan gambut, habitat gajah, dan kawasan konservasi dibiarkan menyusut, makin kecil dan tak lagi menjadi rumah bagi satwa endemik, maka alam pun perlahan kehilangan julukan kedamaiannya.
Sumatra Barat pun tidak luput dari petaka yang menimpa. Berulang kali tersungkur oleh banjir bandang dan tanah longsor dalam beberapa tahun terakhir. Derita ini memperparah sejarah deforestasi, kebakaran gambut, dan carut-marut tambang ilegal yang kian mengikis tubuh pulau.
Lalu datanglah akhir November 2025. Ketika Siklon Tropis Koto dan bibit Siklon 95B menyeret hujan ekstrem ke wilayah utara dan tengah. Seketika alam berubah menjadi pemangsa ganas yang dengan sekejap melindas semua yang ada di depannya.
Namun badai itu bukan sumber utama tragedi, badai hanya menyentuh tanah yang sejak lama sudah kritis karena ulah manusia. Maka bencana bukan lagi khayalan buruk, melainkan keniscayaan dari hulu yang berubah, bukit yang teriris, dan hutan yang terpotong tanpa henti.
Sungai pun kehilangan kendalinya, air tidak lagi mengalir seperti biasa, ia menjelma menjadi lumpur pekat, membawa batang yang tak lagi kuat untuk berdiri. Sungai mengalir deras tanpa rute, tak heran jika pemukiman, dan aset berharga menjadi sasarannya.
Akhirnya, Sumatra berkata kepada kita dengan cara yang paling menyakitkan : pulau ini sedang berada dalam darurat ekologis sebuah kenyataan yang terlalu sering kita abaikan begitu saja.

Akar Luka : Mengapa Alam Teraniaya
Dalam hitungan hari, 3 provinsi di pulau Sumatra penuh dengan air yang bercampur tanah hingga menutupi atap rumah. Tak sedikit rumah hancur, mobil terseret derasnya air yang membawa bongkahan kayu yang tak lagi kuat berdiri.
Tidak hanya bangunan yang terkubur karena longsor, puluhan nyawa melayang, dan tak sedikit nyawa yang sampai kini belum tercium baunya.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharianto (29/11), sore kemarin menyampaikan dalam konferensi pers, Sumut 166 orang, Aceh 47 orang, Sumbar 90 orang teridentifikasi meninggal dunia, dan masih banyak ratusan orang lainnya hilang.
Sebelumnya Kepala Balai Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah 1 Hendro Nugroho, cuaca ekstrem di berbagai wilayah Sumatra beberapa hari ini adalah dampak dari Siklon Tropis Senyar, Siklon ini merupakan bibit dari Siklon Tropis 95B yang berkembang 21 November di perairan timur Aceh, Selat Malaka
Siklon Tropis Senyar memberikan dampak peningkatan intensitas dan memicu potensi cuaca ekstrem di wilayah Sumatra Utara. Cuaca ekstrem ini juga diperparah dengan kondisi kelembapan udara yang memicu hujan dengan intensitas lebat.
Akan tetapi ibarat bangunan yang tertimpa hujan deras, layaknya bangunan yang kokoh hujan tidak menjadi masalah serius apabila memiliki atap dan struktur bangunan yang kuat. Tetapi, apabila bangunan itu sudah rapuh, atap bocor di mana-mana, badai sekecil apa pun akan membuat bangunan itu hancur.
Begitu juga dengan alam, hutan yang seharusnya menjadi benteng pertama ekosistem pulau, apabila terus dirusak oleh ulah tangan manusia akan kehilangan makna hutan sebagai pelindung kehidupan.
Dari sini Siklon tropis merupakan perantara peringatan besar atas rusaknya ekologi di pulau Sumatra. 3 faktor utama sebagai perhatian khusus, mengapa bencana terlihat parah dan sangat serius, di antaranya :
Deforestasi skala besar.
Sepanjang tahun 1985-2008 10,1 juta ha hutan beralih fungsi lahan, ini menunjukkan bahwa deforestasi di Sumatra berlangsung selama beberapa dekade. Parahnya pada tahun 2024 deforestasi di Sumatra terus terjadi, tercatat 91.248 ha hilang, ini artinya deforestasi bukan hanya cerita masa lalu, tetapi terus berlangsung hingga kini.
Deforestasi akan meningkatkan emisi karbon, menyebabkan meningkatnya pemanasan global, selain itu menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan perusakan habitat satwa endemik.
Kerusakan Ekosistem Gambut.
Mengutip dari berita harian Kompas.com (28/7/25) _ Wakil Rektor Universitas Riau (UNRI) Sofyan Husen Siregar, menyebutkan bahwa 52 persen lahan gambut di Sumatra terdegradasi akibat alih fungsi lahan. Provinsi Riau kehilangan 240.000 hektare hutan gambut dalam satu dekade terakhir.
Lahan gambut sebagai fondasi utama pengatur siklus Hidrologi makin terancam karena alih fungsi lahan. Gambut yang seharusnya dapat menyerap air dalam jumlah besar di musim hujan kini tak mampu lagi membendungnya.
Pertambangan yang tidak tergkendali.
Kementrian ESDM mencatat ada lebih dari 2.700 pertambangan tanpa izin (PETI) yang tersebar di tanah air. Dengan temuan lokasi terbanyak pertambangan ilegal ada di pulau Sumatra. Lebih dari 90 laporan jumlah kasus tambang ilegal pulau sumatra hanya pada tahun 2023.
Tambang ilegal akan berdampak buruk pada kestabilan ekosistem alam, pencemaran air, degradasi tanah dan erosi hingga pencemaran udara tak akan luput dari pertambangan yang tidak terkelola dengan baik.


Referensi :
Walhi Sumbar Banjir Bandang dan Tanah Longsor sebagai Puncak Krisis Ekologis di Sumatra.
Banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar: Apa perkembangan terbaru? – BBC News Indonesia
Walhi: Kerusakan Hutan Batang Toru Jadi Pemicu Banjir & Longsor Sumut.
Pembangkit Listrik Tenaga Air Batang Toru – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
ESDM Temui Lebih 2.700 Tambang Ilegal, Terbanyak di Sumatra Selatan – Energi Katadata.co.id
Data Korban Tewas Bencana Sumatera: dari Aceh, Sumut hingga Sumbar









